Berawal dari tak sengaja asal mengganti tombol
remote televisi di malam hari nan galau, saya akhirnya menonton film berjudul
KRAKATOA. Berkisah tentang meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menjadi
peristiwa bersejarah Indonesia dan mendapat perhatian seluruh dunia. Hampir 1/8
penduduk dunia merasakan guncangan meletusnya Gunung Krakatau ini. Maka tak
heran, sampai sekarang Gunung Krakatau masih memancarkan pesona dan kisahnya.
Sayapun menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang dirudung rasa
penasaran untuk menjejakan kaki di Gunung Krakatau yang kini telah menjelma
menjadi Anak Gunung Krakatau sebagai gunung api aktif. Niat sudah lama sekali,
tapi bingung mau kesana bagaimana? Dengan siapa? Naik apa? Dan tanda tanya
lainnya.
Pucuk dicinta, ulam tiba, salah satu teman sewaktu sma dulu, mengajak untuk
pergi ke Krakatau. Saya spontan lihat kalender, telepon HRD buat crosscheck
sisa cuti, baca-baca Itinerary yang membuat air liur mengucur sampai satu ember (hanya
ilustrasi semata :p ). Wokeeeeehhh saya ikut mewujudkan impian ke Krakatau yang
melegenda itu..Persiapan ala backpacker dengan perlengkapan super lengkap mulai dari baju sampai senter untuk penerangan di malam hari, karena di Pulau Sebesi tempat kami bermalam, listrik hanya menyala dari jam 6 sore sampai jam 12 malam. Tak ketinggalan, 2 Kaleng Liang Teh CAP PANDA sudah mendarat manis di backpack untuk perbekalan selama melancong 3 hari 2 malam. Maklum kalau sedang jalan-jalan, pasti saya kurang minum air putih, ditambah lagi dengan cuaca panas di pantai yang akan banyak saya kunjungi selama jalan-jalan nanti. Sudah pasti, penyakit panas dalam akan ikut dalam perjalanan saya. Tapi, saya tetap tenang saja, selama ada Liang Teh Cap Panda, karena meskipun kemasannya modern, bahan-bahan alami didalamnya berkhasiat menghilangkan panas dalam tanpa memberikan efek samping yang negatif, malah tambah segar dan adem.
Yuk berangkat!! Meluncur ke Bakauheni dengan kapal dari Pelabuhan Merak, berasa lagi mau berangkat naik Titanic, soalnya saya takut kapal tenggelam dan berita baiknya, saya tidak bisa berenang. Tapi, tetap lanjut dong, seperti lagu kesukaan saya.. “walau badai menghadang, Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu..” (nyanyian kapal untuk saya) #jrengjreng
Sampai jugalah di Pulau Sebuku Kecil dengan pantai berpasir putih dan berbagai puing-puing karang disekitar pantai, serta dimanjakan pemandangan air laut jernih dengan gradasi biru yang cantik. Sambil menikmati pemandangan pantai di Pulau Sebuku Kecil ini, saya dan rombongan diajari bagaimana snorkeling yang baik dan benar, mulai dari pemakaian alat bantu nafas, jaket pelampung dan kaki katak. Setelah puas menikmati keindahan pantai di Pulau Sebuku Kecil, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor menuju Pulau Sebuku Besar yang letaknya tak begitu jauh dengan Pulau Sebuku Kecil.
Perahu motor berhenti di area snorkeling, dengan sedikit deg-degan, saya turun perlahan dari perahu motor untuk melakukan snorkeling. Meski tak bisa berenang, saya tetap bisa snorkeling ria karena ada jaket pelampung yang begitu baiknya membantu saya. Tapi ada satu hal yang membuat saya takkan pernah lupa, saya berenang mundur, bukan maju, seberapa keras saya berusaha untuk berenang maju, tetap saja bergerak mundur. Jadilah bahan tertawaan oleh teman serombongan yang baru kali itu saya temui. Tak mengapa, karena semua terbayarkan dengan pemandangan bawah laut di Pulau Sebuku Besar yang sungguh indah, banyak terumbu karang warna warni yang cantik, ikan-ikan kecil beraneka warna yang berenang malu-malu dan bersembunyi di karang. Bagaimanapun saya coba mendeskripsikannya, takkan sama bila tak melihat dan merasakannya langsung,,atur jadwal untuk kesini segeraa!! Harus coba!
Setelah puas berbasah-basah ria, saatnya melanjutkan perjalanan ke Pulau Sebesi. Di Pulau ini, sudah cukup banyak penduduk, sangat berbeda dengan Pulau Sebuku Kecil maupun Besar yang tak berpenghuni. Di Pulau inilah, kami menginap dan bermalam mengumpulkan tenaga untuk mendaki Anak Gunung Krakatau sebelum matahari terbit. Meski Pulau Sebesi sudah berpenghuni, kebersihan pinggir pantainya masih sangat terjaga, bahkan saya bisa berjumpa dengan cukup banyak ubur-ubur yang seolah cukup bersahabat. Namun, hati-hati bila menyentuh ubur-ubur ini ya, karena akan menyebabkan gatal bila terkena serangannya. Bermain-main di pinggir pantai di Pulau Sebesi seru dan menyenangkan sambil berinteraksi dengan penduduk.
Ditemani angin sepoi-sepoi yang cukup menyejukan, sambil menikmati segarnya Liang Teh Cap Panda di teriknya sengatan matahari. Banyak perahu nelayan yang menepi, saya yang cukup iseng, mencoba menaiki perahu tersebut untuk memenuhi rasa penasaran. Antara senang dan takut, karena takut terbalik dan lagi-lagi saya tidak bisa berenang..hehehehe
Setelah cukup bermain-main, saatnya melanjutkan perjalanan ke Pulau Umang-umang yang jaraknya tak begitu jauh dengan Pulau Sebesi. Pantai di Pulau Umang-umang ini terdiri dari batu-batu besar dan pepohonan hijau yang menemani pasir putih di pinggiran pantainya.
Perjalanan mendaki Anak Gunung Krakatau dimulai, berbekal ranting yang saya temukan diperjalanan, saya bersama rombongan mulai mendaki. Kami tidak bisa mendaki hingga ke puncak, karena Anak Gunung Krakatau masih terus bertumbuh setiap tahunnya dan aktivitas lavanya masih cukup aktif. Kepulan asap yang keluar dari Anak Gunung Krakatau, membuat saya takjub dan bersyukur diberi kesempatan untuk melihat keindahan ciptaanNya.
Setelah puas berfoto-foto ria, saya dan rombongan turun gunung dan bermain-main di pantai berpasir hitam.. Suasana mendung nan kelabu, menyempurnakan pemandangan pantai ini.. Meski cukup berbeda dengan pantai yang sebelumnya pernah saya singgahi..Pantai inilah yang paling membuat saya terpana dan cukup hanyut dalam suasana, membayangkan saat Krakatoa berguncang dengan hebatnya..suara teriakan, hingga keheningan saat semua habis dan tertutup abu hitamnya.
Melihat air laut yang seolah berwarna hitam, mengingatkan saya pada Liang Teh CAP PANDA yang menggoda saya ingin berenang-renang dan membuka mulut lebar-lebar sambil membayangkan air laut ini adalah Liang Teh Cap Panda. Untungnya, saya masih sadar dan mengurungkan niat itu..Lebih baik minum yang asli dari kalengnya saja.
Gelombang-gelombang kecil bergulung dengan pasir-pasir hitam yang menghapus tiap jejak kaki yang saya buat. Namun, takkan menghapus kenangan saya akan pesona pantai berpasir hitam dengan gagahnya Anak Gunung Krakatau..Tetaplah tenang dan jangan "mengamuk" lagi..suatu saat saya ingin kembali lagi..bersama anak, cucu..hanya sekedar menegok dan berkata
“Hai,saya datang..
Pantai berpasir hitam Krakatau yang melegenda.. seisi dunia mengenalmu, dan ingin menyapamu"






















Tidak ada komentar:
Posting Komentar